Teman, sering kita mendapati diri kita memiliki kelemahan dan kita menganggap itu adalah kekurangan. Hal ini berimbas pada kita yang menjadi takut dengan kekurangan itu.

Di tulisan ini saya akan menceritakan tentang 3 cara mengubah fear into power. Cekidot:

1. Ubah Gerakan.

Ketahuilah, Teman, our motion change our emotion, gerakan itu mempengaruhi perasaan. Mari kita adakan sedikit eksperimen. Cobalah lakukan hal-hal di bawah ini secara berurutan:

  • Turunkan bahu kita dan masukkan dada ke dalam.
  • Turunkan dagu dan buat wajah sekusut mungkin dengan mata yang sayu.
  • Kemudian katakan dengan lesu: “Saya lagi bahagia.”

Apa yang kita rasakan? Apakah kita benar-benar bahagia? Tentu tidak. Karena memang emosi dipengaruhi oleh gerakan. Mari kita coba langkah sebaliknya:

  • Busungkan dada dan dagu diangkat.
  • Pelototkan mata, tapi jangan sampai melompat keluar bola matanya.
  • Kepalkan dengan kencang tangan kita sejajar kepala dan teriakkan: “SAYA LAGI SEDIH!!!”

Apa yang terasa? Apa sudah paham? :) Mulai sekarang ubah gerakan ya, Teman. Walau lagi tak punya uang, cara berjalan kita tak boleh seperti tak punya semangat. Tipsnya: berjalanlan 25% lebih cepat dari biasanya. Berjalanlah tegak bagai menggendong ransel 40 kg. Hehehe. Cobalah dalam waktu 1 minggu dan rasakan perbedaannya. :)

Bersambung….

Arif Rahman Igirisa.

Ingin megobrol dengan saya? Follow twitter @arifigirisa

Teman, agar semua ilmu dapat masuk dengan baik, ya benar, SEMUA ILMU, ilmu apapun itu, maka kita harus memenuhi tiga buah kondisi yang mana ini begitu penting dan memang harus ada dalam setiap proses belajar atau menerima ilmu.

Pertama, Cintailah Gurunya. Kedua, cintailah pelajarannya. Ketiga, cintailah diri kita sendiri.

Sering ada sebuah pelajaran yang sangat kita sukai, tapi gurunya tidak kita cintai, sungguh pelajaran seperti itu tidak akan masuk. Saya rasa semua orang pernah mengalami hal serupa. Begitupun sebaliknya, jika gurunya telah kita cintai, telah senangi, tapi pelajarannya itu sendiri tidak kita cintai atau gemari, jelas itu pun tidak lebih baik dari kondisi yang pertama.

Guru saya pernah bernasihat tentang sebuah doa agar kita bisa mencintai guru sekaligus mencintai pelajarannya. “Apa doa itu, Guru?” tanya saya.

“Allahumma paksa..” ucap guru saya. Saya dan teman-teman lain tertawa.

Sekilas terdengar bercanda. Tapi ada betulnya bahwa memang sebuah kecintaan terhadap ilmu itu harus dipaksakan. Memang awalnya terpaksa, dicoba lagi terus akhirnya bisa, lama-lama biasa, akhirnya jadi luar biasa.

Syarat ketiga, mencintai diri sendiri di sini maksudnya adalah jika kita tidak rajin belajar, maka kita seharusnya dapat menikmati betapa pahitnya kebodohan. Teman, adakah kondisi ketika kita yang rajin dan susah payah belajar, eh ternyata orang lain yang menjadi pintar? Tentu tidak. Yang menanam, dia yang akan menuai hasilnya, begitu kata pepatah.

Jika kita tidak rajin belajar, sama artinya kita tidak menyayangi dan mencintai diri kita sendiri karena membiarkan diri kita dalam kebodohan dan terjerumus ke alam kegelapan. Kita sedang bicara ilmu ya, bukan mati lampu. :)

Nah, itu dia tiga kondisi yang harus terpenuhi dalam proses belajar. Mari terus semangat belajar.

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Sering kita ketika diberi sebuah tantangan baru, ketika diberi sebuah perintah baru yang kita akan lakukan, atau saat terjebak di sebuah kondisi yang mau tidak mau kita harus melaksanakannya, kita merasa hal itu terlalu berat untuk dilakukan. Sering kita keluhkan: “Duh, terlalu jauh” lah, atau “Terlalu sulit” lah, dan sebagainya dan sebagainya.

Tak jarang juga kita melebih-lebihkan masalah yang kita sedang hadapi. Padahal, Teman, masalah itu tidaklah ‘separah’ yang kita katakan.

Guru saya pernah bernasihat sebuah trik khusus yang dapat membuat apapun dapat menjadi ringan. Apa itu? NIAT!

Kenapa beberapa lain orang asik dengan apa yang dikerjakannya, sementara yang lain tidak menikmati apa yang ia sedang kerjakan? Jawabannya: NIAT. Jika kita niatkan, insyaallah semua jadi mudah, begitu ungkap seorang guru.

Alkisah ada sebuah penjara yang dihuni oleh 4 orang. Yang pertama, seorang pelaku pencabulan. Yang kedua, seorang pembunuh berantai. Yang ketiga ia adalah seorang psikopat dan yang keempat adalah seorang waria.

Di sebuah kesempatan, mereka dilanda rasa jenuh yang luar biasa di dalam penjara. Kemudian mereka bercerita tentang apa yang mereka niatkan untuk segera dilakukan untuk melepas kejenuhan mereka.

Seorang pelaku pencabulan berkata: “Kalau seandainya di depan kita sekarang ini lewat seekor kucing, maka saya akan memperkosa dia!”

“Kalau saya, setelah saya perkosa, akan saya bunuh kucing itu!” si Pembunuh Berantai menimpali.

“Kalau saya, setelah saya perkosa tuh kucing, saya bunuh, terus saya perkosa lagi!” si Psikopat tak mau kalah ia mengungkapkan niatnya apa yang akan dia lakukan jika seekor kucing lewat di depan mereka.

Tiba-tiba dari sudut ruang penjara seorang waria berkata lirih: “Miaaaw… miaaaw…” sambil memperagakan gerakan kucing mencakar.

Hari ini, Rabu 9 Juli 2014, rakyat Indonesia sedang (akan) melaksanakan sebuah hajatan besar yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Ada yang mengait-ngaitkan bahwa keturunan baik menjadi patokan, sehingga yang dari keturunan tidak baik, tidak pantas dipilih. Ada juga yang berceloteh bahwa calon yang ini orangnya ganteng dan pantas dipilih, padahal kegantengan bukan kriteria untuk memilih pemimpin. Kalau pemilihan calon suami sih boleh saja ganteng. :)

Ada juga yang menilai dari hartanya. -_- persis kriteria memilih calon suami ya? Harus Ganteng, Kaya dan dari keluarga yang baik-baik. Padahal Nabi kita mencontohkan bahwa dalam memilih pemimpin harus ada 4 kriteria yang kita lihat dan pertimbangkan. Yaitu, Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh. Mari kita tengok satu persatu: Baca entri selengkapnya »

Sering kita menyalahkan orang lain, dan itu mudah sekali. Meng-orang-lain-kan kesalahan diri sendiri pun lebih mudah dari itu. Ibarat kata sebuah pepatah, “Kuman di seberang nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak.” Walau kalau dipikir-pikir, emang kalau gajah ada di pelupuk mata ketutupan ya? Pantasan aja gak keliatan. Gelap. Ah, sudahlah, pokoknya gitu. Kita sering tidak melihat kesalahan diri sendiri, tapi lebih senang melihat kesalahan orang lain.

Kadang kala, kita bisa terkena bahaya menyalahkan orang lain dan termakan omongan kita sendiri. Seperti kisah berikut.
Konon, di sebuah kelas di perguruan tinggi, seorang dosen sedang marah-marah tidak jelas, mungkin kecewa dengan para mahasiswanya yang tidak becus dalam memahami materi perkuliahan.

“Saya kecewa dengan kalian semua!” bentak Dosen tersebut.

“……..” para mahasiswa tak bisa berkata apapun. Hening. Semua menundukkan kepalanya.

“Sekarang, coba berdiri siapa yang merasa dirinya BODOH? Cepat sekarang! BERDIRI!” Dosen tersebut manatap mahasiswanya nanap. Melotot.

Kelas terus hening dan tak ada yang berani menyela Dosen yang sedang marah-marah itu.

Tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang berdiri dari tempat duduknya. Melihat hal itu Dosen tersebut langsung bereaksi.

“Kamu! Kenapa kamu berdiri hah?!” Bentak dosen tersebut, “Apa kamu merasa diri kamu bodoh? Hah?” Dosen naik pitam.

“Bukan begitu, Pak, saya hanya tidak tega melihat bapak BERDIRI sendirian saja.”

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Khatam Quran

Teman, sudah tentu kita ketahui keutamaan membaca Quran. Terutama di bulan suci Ramadhan. Pahalanya tentu berkali-kali lipat daripada bulan-bulan biasanya. Nah, saya ingin men-share pengalaman pribadi saya dan pengalaman teman-teman saya dalam mengkhatamkan Quran dalam satu bulan bahkan berkali-kali dalam sebulan.

Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak silahkan bergabung dengan komunitas ODOJ, One Day One Juz di onedayonejuz.org

Baik, berikut penjelasannya. Pertama, perlu kita ketahui bahwa 1 juz itu jumlahnya ada 9 sampai 10 lembar. Kalau dibagi menjadi 5 bagian, artinya ada 2 lembar. Triknya adalah kita membacanya ketika sebelum dan sesudah sholat 1 lembar. Ya, hanya 1 lembar. Mudah kan? Atau kalau kondisinya tidak memungkinkan, bisa 2 lembar sebelum, atau 2 lembar sesudahnya, atau terserah di mana saja waktu yang sempat  yang penting kita bisa membacanya 10 lembar dalam satu hari. Sehingga dalam 1 bulan (30 hari) dapat terselesaikan 30 juz. Sekali khatam dalam sebulan.

Lain ceritanya jika ingin mengkhatamkan berkali-kali dalam 1 bulan. 2 kali, 3 kali, 4 kali, atau bahkan lebih dari itu, tentu harus membaca lebih banyak lagi halaman dalam 1 hari.

Singkatnya jika ingin khatam 1 kali dalam sebulan, harus menyelesaikan 1 juz sehari. Kalau 2 kali khatam, ya 2 juz sehari. Kalau 3 kali khatam, berarti 3 juz sehari. Dan begitu seterusnya.

Untuk mudahnya silahkan tengok tabel di bawah ini:

Teknik Mengkhatamkan Quran Berkali-kali dalam sebulan

Itulah tabel yang secara logika bisa tercapai sampai 6x khatam quran dalam sebulan. Tapi pada prakteknya, harus diakui butuh konsistensi dan militansi yang tinggi untuk mencapainya. Butuh semangat yang nafas panjang untuk meraihnya. Perlu teman-teman, sahabat-sahabat yang mendorong kuat untuk menyelesaikannya.

Yuk, semangat membaca Quran, Teman. :)

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Ketika Kematian Datang, Maka Semuanya Sudah Terlambat

Ketika Kematian Datang, Maka Semuanya Sudah Terlambat

“Tidak ada kata terlambat.” Begitu kata banyak motivator. Tentu, Teman, kita sering mendengarnya. Namun ternyata Allah mengajari kita tentang ada kata terlambat. Coba renungkan, kenapa sholat itu ditentukan waktu-waktunya? Kenapa puasa ada waktunya? Kenapa Allah sering bersumpah demi waktu dalam Quran? Demi masa, demi dhuha, demi malam, demi fajar, demi subuh, semuanya tentang waktu. Apa tandanya ini? Barangkali Allah ingin kita disiplin dan berkata “Terlambat itu ada”.

Lalu, di manakah letak kata terlambat itu? Baca entri selengkapnya »

Dapatkan Bukunya di sini: 7KFPP atau sms ke 08982497463

Dapatkan Bukunya di sini: 7KFPP atau sms ke 08982497463

Memang dunia bisnis dunia yang tidak pasti. Makanya banyak pebisnis yang tiba-tiba dapat 20 juta semalam. Gak pasti. Hihiw. Berbisnis juga merupakan 9 pintu dari 10  pintu rezeki yang disediakan Allah. Namun, beberapa pebisnis, ah bukan, kebanyakan pebisnis pemula sering melakukan beberapa kesalahan fatal yang seharusnya tidak ia lakukan. Ya iyalah, ya, namanya fatal seharusnya gak harus dibikin. Hihihi. Tapi buat pebisnis yang sudah ‘terlajur basah’, mari kita belajar. Kira-kira ada 7 kesalahan fatal pebisnis pemula, berikut ketujuh kesalahan-kesalahan yang sering ditemukan oleh para pebisnis pemula. Cekidot! Baca entri selengkapnya »

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Bulan Yang Dibenci Setan

Posted: 28 Juni 2014 in artikelku
Pulang Kampung Aja, Tan!

Pulang Kampung Aja, Tan!

Romadhon namanya. Tidak lebih dari 30 hari lamanya. Sungguh mulia kedudukannya. Amat banyak keutamaannya. Bulan yang dikatakan bahwa ketika itu pintu-pintu surga terbuka lebar dan setan-setan dibelenggu.

Coba kita renungkan lagi dua kalimat penting di atas.

1. Pintu-pintu surga terbuka lebar

2. Setan-setan dibelenggu.

Benarkah begitu?

Oke, kita coba Baca entri selengkapnya »

Mendengarkan Dapat Meluluhkan Hati

Mendengarkan Dapat Meluluhkan Hati

Teman, dalam berkomunikasi, berbicara bukanlah satu-satunya skill yang harus kita miliki. Namun keahlian penting yang harus kita punyai, yang bahkan jauh lebih dahsyat daripada berbicara adalah MENDENGAR. Di tweet-tweet saya juga pernah saya bahas tentang betapa ajaibnya mendengarkan itu.

Para inspirator juga sering mengatakan hal yang lazim kita dengar, yaitu alasan kenapa kita hanya punya satu buah mulut sementara memiliki dua buah telinga.. Barangkali Tuhan ingin kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Kita diinginkan Allah untuk mensyukuri bentuk anugerah ini untuk lebih banyak memahami orang lain daripada egois tentang keinginan kita.

Yang saya bicarakan di sini bukanlah mendengarkan yang sekadar memasang kuping dan selesai. That’s it. Jauh daripada itu adalah mendengarkan yang di sana kita melibatkan hati dan pikiran kita juga di sana. Dalam bahasa inggris ada mendengar “To Hear” dan ada juga mendengar yang dalam bahasa inggris “To Listen”, yang berarti mendengar dengan memperhatikan. Keduanya berbeda maknanya.

Saya teringat seorang guru yang menjelaskan pada saya tentang 4 tingkatan mendengarkan. Baiklah, ini dia 4 tingkatan itu: Baca entri selengkapnya »

Selamat buat murid-muridku Kelas XI Jurusan Keperawatan Medis, XI Akuntansi, dan XI RLP, SMK Muhammadiyah Bitung tahun ajaran 2013/2014 yang sekarang sudah naik ke kelas XII. Cieee… Bentar lagi UN.

Selamat juga buat para peraih rangking di kelas.  Apakah perlu dituliskan nama-nama para juara itu? Bolehlah. Berikut nama-nama mereka: Baca entri selengkapnya »

Neraca Atau  Timbangan

Neraca Atau Timbangan

Menjadi hakim, sudah barang tentu adil adalah kriteria utama yang harus dimiliki olehnya. Ia harus dapat menimbang dengan benar sebuah keputusan. Saya teringat akan seorang bapak yang bercerita tentang istilah “Hakim Yaki” yang dalam bahasa Manado “yaki” itu berarti monyet. Berikut kisahnya.

Alkisah ada seekor monyet yang sedang menimbang pisang di sebuah neraca, persis neraca di zodiak libra. Hihihi. Ada beberapa pisang di sebelah kanan, ada juga beberapa pisang di sisi kiri. Monyet ini berpikir, bagaimana caranya agar neraca ini menjadi seimbang? Kemudian ia memutuskan untuk memakan sebuah pisang di sisi yang paling berat.

Namun, apa yang terjadi setelah itu? Sisi yang tadinya Baca entri selengkapnya »

Awesome Drawing About World, Amazin! (4)

Guru saya pernah bertanya pada saya, “Manakah yang lebih mulia, orang yang belajar atau orang yang mengajar?”

“Yang mengajar.” ujar saya. Dalam hati saya, orang yang mengajar sudah tentu dia sedang belajar. Guru saya menggeleng.

Guru saya tersenyum sebelum menjawab, “Orang yang belajar.”

“Kenapa, Pak?”

“Memang Allah memuliakan ilmu. Semua yang terlibat dalam kegiatan keilmuan mendapatkan fadhilah atau keutamaan ilmu itu sendiri.”

Saya menyimak.

“Namun, ingatlah, menuntut ilmu itu Baca entri selengkapnya »

Di sebuah sinetron ada adegan seperti ini: Di sebuah rumah, ada seorang lelaki tua yang terbaring lemah, sementara keluarganya sedang berkumpul. Anak-anaknya, isterinya, cucu-cucunya, menantu-menantunya, dan lainnya telah berkumpul. Lelaki berkata, “Sebelum saya meninggal saya akan mengatakan bla.. bla.. bla.. bla.. wasiat.. bla. bla.. bla.. tolong ingat bahwa.. bla bla bla.. bla…”

Setelah menyampaikan ‘uneg-uneg’nya, dia menghembuskan nafasnya satu-satu. Dengan terbata-bata berucap, “Asyhadu…. asy… asyhadu… allaaaaailaaha.. illallah…” dan kepalanya berpaling kesamping.

Seolah-olah kematiannya telah disiapkan dengan sempurna.

Padahal padanya kenyataannya:

KEMATIAN SELALU DATANG DI SAAT DI MANA KITA PALING TIDAK SIAP.

 

Kalau dipikir-pikirkan, Entah mengapa di Indonesia sungguh tabu berbicara tentang mati. Padahal islam mengajarkan orang yang paling cerdas adalah yang paling sering mengingat mati.

Satu per satu teman kita, orangtua-orangtua kita pun telah melewati kematian. Kematian adalah sebuah keniscayaan. Lantas, kenapa tabu dan berkata, “Hush! Jangan ngomong kayak gitu!” ketika membicarakan kematian.

Ya Robb, jadikan akhir kami-kami ini dengan husnulkhotimah. Kami berlindung kepadaMu dari su’ulkhotimah.

Sungguh kerabat kami yang mendahului kami sudah cukup menasihati kami tentang kematian. Sungguh uban yang semakin banyak cukup menjadi nasihat tentang kematian. Sungguh tubuh yang makin lama makin menua ini cukup untuk menasihati kami tentang kematian.

Ampuni kami yang selalu lalai dalam mengingatMu, Ya Robb. Kami terlalu sibuk dengan urusan dunia, sementara lalai dalam urusan akhirat kami. Sementara itu, kematian terus mendekati kami dengan pasti, namun kami sering mengingkarinya.