metode-metode menyelesaikan rubik’s cube

Posted: 11 Juni 2010 in Matematika dan sains


Petrus Method :
Metode ini dirancang oleh Lars Petrus, speedcuber seangkatan Jessica Fridrich. Bila metode Fridrich tergolong metode sistematis, maka metode petrus jauh lebih intuitif.
Metode ini mengharuskan anda menggunakan logika dan kekuatan pikiran untuk membuat apa yang disebut “block buliding”. Yang pertama diselesaikan pada metode ini adalah blok 2×2×2, lalu diperluas menjadi 2×2×3. Selanjutnya seluruh edge diorientasikan, kemudian kedua sisi rubik yang tersisa diselesaikan dengan algoritma Sune, Allan, dan Niklas.
Lars Petrus mengembangkan metode ini karena merasa kurang efektif pada metode layer by layer. Dengan metode ini, Anda dapat menyelesaikan rubik dengan lebih sedikit gerakan namun lebih banyak berfikir. Metode ini lebih banyak digunakan dalam cabang fewest moves (menyelesaikan rubik dengan gerakan paling sedikit). Untuk lebih lengkapnya, kunjungi situs http://www.lar5.com

Waterman Method :
Metode yang lebih dikenal dengan sebutan corner-firstmethod ini umum digunakan pada sekitar tahun 1980. Orang yang berjasa mengembangkan metode ini adalah Marc Waterman. Ia telah dapat mencapai average solving time 16 detik pada paruh akhir tahun 1980-an. Salah satu cuber yang menggunakan metode ini adalah Minh Thai, juara rubik dunia yang pertama. Langkah pertama dalam metode ini adalah dengan menyusun salah satu sisi terlebih dahulu (biasanya sisi kiri), baru kemudian menyelesaikan corner pieces, lalu edge pieces dengan beberapa tahap slice turns atau gerakan lapis tengah. Paling tidak ada tujuh algoritma yang harus anda ingat. Jika tertarik, Anda dapat mencari penjelasan tentang ini di http://www.rubikscube.info/waterman.

Roux Method :
Metode ini dikembangkan oleh Gilles Roux. Langkah metode ini diawali dengan membangun 3×2×1 yang terletak dibagian bawah pada lapis kiri rubik. Tahap kedua adalah dengan menyusun blok 3×2×1 lainya pada lapis yang berlawanan. Setelah keempat corner diselesaikan, yang tersisa adalah enam edge dan empat center yang diselesaikan pada tahap terakhir.
Pengguna metode ini dapat memanfaatkan waktu inspeksi yaitu hak 15 detik yang diberikan kepada seorang kompetitor dalam sebuah kompetisi resmi untuk memeriksa rubiknya sebelum melakukan solving. Hal ini dikarenakan cuber dapat merencanakan penyelesaian untuk lima pieces, bukan hanya empat seperti pada metode Fridrich dan Petrus. Metode ini juga tidak terlalu bergantung pada hafalan algoritma karena seluruh tahap, kecuali tahap tiga, dilakukan dengan mengandalkan intuisi.
Metode ini tidak memerlukan banyak rotasi seperti pada metode Fridrich, dengan demikian gerakan Anda saat menyelsaikan rubik lebih efisien. untuk lebih jelasnya, kunjungi situs http://www.grrroux.free.fr/method/intro

Heise Method :
Metode yang meiliki tingkat kerumitan sangat tinggi ini dikembangkan oleh Ryan Heise. Yang pertama kali harus Anda lakukan adalah menyusun empat blok 1×2×2 yang saling menempel. Hal yang menarik, blok-blok ini tidak perlu memiliki warna yang sama sehingga kita leluasa untuk mengambil keuntungan terhadap blok-blok yang sudah tersusun di awal. Tahap selanjutnya, edge pieces akan diorientasikan dan secara bersamaan blok yang telah ada akan tersusun sesuai pasangannya, lalu edge yang masih tersisa diselesaikan. Bila telah selesai, barulah corner diselesaikan dalam dua tahap. Anda dapat mempelajarinya di http://www.ryanheise/cube/heise_method.

Zborowski-Bruchem Method :
Metode ini dikembangkan oleh Zbingniew Zborowski dari Polandia dan Ron van Bruchem dari Belanda. Metode yang sering disingkat ZB ini dapat menyelesaikan lapis terakhir dengan tahap yang lebih sedikit dari OLL+PLL dalam metode Fridrich.
Metode ini identik dengan metode CFOP, namun pasanagan F2L terakir diselesaikan dengan cara melakukan orientasi pada edge lapis terakhir secara bersamaan. Teknik ini dikenal ZBF2L. Langkah terakhirnya yang terdiri dari corner orientation, corner permutation, dan edge permutation dikerjakan dengan satu eksekusi algoritma yang disebut ZBLL.
Keuntungan besar dari metode ini terletak pada eksekusi last layer yang sangat cepat, sebagai sebuah dari pengenalan terhadap 1211 kasus yang dapat menjadikan seseorang dapat melakukan 1 look Last Layer. Metode ini diyakini mampu membuat orang yang menguasainya dapat menyelesaikan rubik dengan waktu rata-rata 11 detik, bahkan kurang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s