Sungguh menggelitik hati, aku terhibur

Posted: 29 Juli 2011 in Matematika dan sains


Waktu menunjukkan pukul 21.30 waktu indonesia bagian tengah. Lapangan di desa bumela di penuhi dengan orang-orang yang akan menyaksikan kontes yang diadakan oleh mahasiswa yang sedang kuliah kerja sosial (kks) atau yang juga biasa dikenal dengan KKN (kuliah kerja nyata). Yang belakangan aku ketahui mereka berasal dari universitas negeri gorontalo.
Dua orang cewek dan satu orang cowok. Rambut berlupus dengan postur kira-kira 165 cm tingginya dan memakai kaos putih oblong santai yang cocok dengan kontes tersebut. Cowok itu tak ku tahu namanya, begitu pula dengan cewek berkacamata dan yang satunya lagi cewek dengan kulit yang agak cerah di banding dengan cewek yang satunya lagi.
“hadirin sekalian mari kita buka acara kita malam ini dan acara pembuka malam ini adalah kontes kacamata tingkat ana-anak! Beri tepuk tangan…..!!” emsi eh maksudnya MC mulai berbicara di mic dengan menggunakan kaos hitam yang di masukkan kedalam celana jeans persis seperti gaya melayu tahun 80-an dipadukan dengan ikat pinggang berwarna coklat.
“dan mari kita panggilkan peserta pert`ama, anakda… Ridho Pou… beri tepuk tangan yang meriahhhh…!!!!”
Tidak lama kemudian naik ke panggung seorang anak kecil laki-laki dengan kaos hitam imut bak Ariel Peterpan hanya saja tidak belah tengah.
“alay… kamu kok lebay…” seperti itu lirik musik yang ku dengar.
begitu musik dimulai, bocah tersebut mulai berlenggak lenggok seperti model yang memperagakan busana rancangan desainer ternama di atas catwalk hanya saja diiringi dengan musik.
Sorak warga desa bumela mulai terdengar heboh begitu si Ridho mulai berjalan ke kiri dan ke kanan sambil memakai kacamata-nya. Semua warga terhibur dengan tingkah lucu bocah itu di atas panggung.
Aku tersenyum terpingkal-pingkal. (???)
bayangkan saja bagaimana senyum bisa terpingkal-pingkal.
“Ha.. haha.. haha.. hahahahahaha…” tertawa dari penonton bergemuruh di langit malam yang cerah ini.
Aku tercekat! melihat si ridho melambaikan tangannya dan memberi ciuman jarak jauh kepada penonton dan panitia yang juga menjadi juri. Spontan aku tertawa bersama penonton. Ya, tertawa terbahak-bahak.

Iklan
Komentar
  1. Rizal Akuba berkata:

    menarik,,,ingat desa nih ,,, kangen semua orang di sana 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s