CERPEN RDK 32 ITS : Sebuah Janji untuk Datok

Posted: 29 Juli 2011 in cerpen

oleh Nany Safrianty pada 22 Juli 2011 jam 12:09

“Pak, minta sedekah…”, lirih seorang kakek dengan jalan pincang.

Suara lirih itu setiap hari terdengar saat kendaraan berhenti karena lampu merah. Dan akan berhenti jika tangan yang menengadah itu sudah ada kepingan atau kertas bertuliskan “Rupiah”. Kadang sumringah, karena “penghasilannya” banyak. Kadang kecut, karena hanya kepingan uang yang diberikan hanya berkisar ratusan rupiah. Begitulah para peminta zaman sekarang. Namun, tak hanya sampai disitu. Bahkan, mereka mempunyai “Bos” yang mempekerjakan mereka dengan terkoordinir dan amat rapi.

###

“Mana penghasilan kau hari ini? Banyak ndak1?”, hardik seorang Bos pada kakek tua.

“Cuma ini jak2 penghasilan hari ini bos.” jawab kakek tua.

“Seharian sampai malam cuma ini jak? Kerja yang becus! Besok harus lebih banyak! Aku ndak mau tahu! Dah3, pergi sana!”, kata Si Bos seraya menolak kakek tua itu.

Kakek tua itu mulai meninggalkan tempat sang Bos. Dengan kaki yang terpincang dan berjalan tak seimbang, ia kembali ke gubuknya. Letih luar biasa menghinggapinya karena “bekerja” seharian. Ia pun tertidur disamping cucu angkatnya dengan menggenggam sedikit uang yang disisihkannya. Cucuku membutuhkan ini untuk terus sekolah, dalam benaknya.

###

Keesokan harinya…

“Datok4, Arya pergi sekolah dulu ya…”, kata cucu angkatnya itu.

“Iya, Cu. Datok ada sedikit uang buat kau sekolah. Ambillah.”, pinta Datok.

“Kasihan Datok, suatu saat hidup kite5 pasti berubah. Arya janji same Datok!”, kata Arya dengan penuh keyakinan.

Datok hanya tersenyum melihat semangat cucunya itu. Lalu, melepasnya pergi sekolah. Arya adalah satu-satunya alasan Datok bertahan hidup di kota yang keras ini. Datok rela bertahan hidup dengan mengemis, karena ancaman si Bos akan menghantuinya setiap hari.

Datok memulai harinya dengan bekerja seperti biasa. Saat lampu merah, kakek mengemis dari pengendara motor hingga mengetuk-ngetuk kaca mobil meminta belas kasihan. Banyak yang iba dengan Datok, namun ada juga yang curiga macam-macam takut dirampok oleh Datok. Oleh karena itu, penghasilan Datok setiap harinya tidak selalu banyak.

Namun, setiap hendak pulang, ia sudah ditunggu seseorang dengan baju koko rapi lengkap dengan songkoknya. Saat menghampiri Datok, ia langsung menghardik Datok dan meminta uang dari “jerih payah” Datok mengemis. Bila Datok lamban memberikan uang itu, ia akan merampas dengan paksa. Dialah Bos yang merampas uang para pengemis jalanan dengan penyamaran yang sangat sempurna buruk akhlaknya.

###

Di siang panas yang amat terik. Datok masih setia menengadahkan tangannya yang renta pada pengendara yang tertahan di lampu merah. Hingga tiba waktu lampu hijau, Datok kembali menunggu lampu merah lagi.

“Datok…Datok…”, teriak Arya dengan tersengal-sengal habis berlari.

“Ada apa, Cu? Kok sampai menyusul kesini?”, tanya Datok.

“Alhamdulillah, Tok. Arya dapat beasiswa buat sekolah!”, seru Arya sumringah.

“Alhamdulillah, Cu… Kau memang cucu Datok yang pintar. Pantaslah kau dapat beasiswa, kau rajin belajar. Datok bangge same6 kau.”, kata Datok seraya memeluk Arya.

“Itulah, Tok. Selain biaya sekolah Arya digratiskan sampai tamat, Arya diberi uang lebih oleh sekolah. Nanti Arya pakai buat beli alat-alat semir sepatu. Jadi, Datok bisa istirahat dirumah. Oke? Hehehe…”, tukas Arya dengan bersemangat.

“Cu, ndak usahlah susah-susah buat Datok. Datok cuma mau kau jadi orang yang sukses. Ndak mengemis seperti Datok kau ini. Kau harus sekolah tinggi-tinggi7. Tapi, selalu ingat dengan Allah. Jangan pernah lupakan Pencipta kite. Itu baru oke!”, tutur Datok.

“Baiklah, Tok. Mulai sekarang Arya harus selalu kejar beasiswa supaya kite bise cari uang bersama. Arya akan selalu jaga Datok kemanapun Datok pergi. Dan Arya pastikan, Datok ndak akan mengemis lagi. Pegang omongan Arya baik-baik, Tok. Itu janji Arya spesial buat Datok. Hehehe…”

“Ade-ade8 jak cucu Datok ini. Aoklah9, Datok pegang omongan Arya baik-baik. Datok simpan dalam-dalam omongan Arya. Datok tahu, Arya orang yang tepat janji.”

Keduanya lalu bersalaman seperti menyepakati perjanjian itu. Lampu merah kembali menyala, Datok kembali bekerja. Namun, ia agak enggan bekerja jika ada cucunya melihatnya. Tak lama, ia memutuskan untuk pulang kerumah. Nasib baik, Si Bos tidak ada saat ia pulang kerumah.

###

Terdengar pintu yang didobrak paksa. Mengejutkan Datok yang sedang istirahat karena ia demam dan batuk. Belum lagi kondisi tubuh yang semakin menurun.

“Berapa hari dah kau tak kerje10, heh?”, kata si Bos.

“Maaf, Bang. Aku lagi sakit. Dah ndak mampu nak11 mengemis lagi. Ampun Bang.”, lirih Datok.

“Ampun kau bilang? Zaman sekarang ini yang dibutuhkan uang, uang, dan uang. Kalau kau malas-malasan. Cemane12 nak dapat uang, hah?! Sekarang aku mau kau kerje! Cepat!”, oceh si Bos.

Arya yang pulang dengan riang bersama teman-temannya mendengar Datok dihardik si Bos, Arya mendadak geram dan panas hatinya. Dengan tangan yang tergenggam menahan amarah, ia beranikan masuk kerumah. Teman-temannya terdiam.

“Jangan suruh Datok aku kerje dengan orang seperti kau lagi! Kau itu jahat! Mengambil uang yang bukan punya kau! Dimane13 rasa malu kau? Minta-minta dengan orang tua ndak sopan. Mau enak jak! Pergi kau dari rumah aku!”, seru Arya tak mau kalah.

“Kau bocah bau kencur! Berani menghina Bos seperti aku, heh? Mau minta tampar?”, teriak si Bos.

Arya menutup wajahnya, begitu juga Datok. Tetapi, teman-teman Arya bekerjasama menggelitiki si Bos. Hingga ia merasa kegelian dan tidak jadi menampar Arya. Setelah ia tertawa kegelian, teman-teman Arya dengan cepat mengambil tali di sekitar rumah Arya dan mengikat si Bos di pohon. Salah satu teman Arya pergi ke kantor polisi untuk melaporkan si Bos yang sudah menganiaya banyak pengemis. Perjalanan si Bos berakhir di hotel prodeo berhias jeruji besi.

Arya salut dengan teman-temannya, terharu hingga menitikkan air mata. Begitu juga Datok, ia menangis bahagia karena penderitaannya selama mengemis berakhir. Kemerdekaan itu kembali diraihnya seperti saat ia muda dahulu. Datok dan Arya berpelukan penuh haru. Bak menonton sinetron didepan mata, teman-teman Arya ikut menangis. Walau teman-teman Arya anak laki-laki semua, diantara mereka ada yang tersedu-sedu.

“Datok, Arya akan selalu melindungi dan menjaga Datok. Arya ndak akan menelantarkan Datok. Teman-teman Arya baik sekali mau menolong Arya menghadapi si Bos. Jadi, Datok ndak apa-apa.”, kata Arya.

“Arya memang berhati mulia. Datok bangga dengan Arya dan juga teman-teman Arya.” tutur Datok tersenyum sumringah.

“Siap, Bos!”, seru teman-teman Arya seraya hormat kepada Datok.

Datok terkekeh-kekeh melihat tingkah polah teman-teman Arya itu.

###

Sedikit demi sedikit Arya memenuhi janjinya pada Datok. Ia selalu mendapatkan beasiswa di setiap jenjang pendidikan. Sepulang sekolah, ia membawa semir sepatu dan menabung hasilnya untuk membeli obat Datok yang mulai sakit-sakitan. Datok dapat beristirahat dengan tenang karena tidak mengemis lagi.

Hingga sampai pada waktunya, saat Arya membeli obat untuk dibawa pulang. Datoknya telah tiada. Obat itu tergeletak begitu saja. Melihat Datok yang tersenyum dan wajah berseri itu, Arya tak ingin air matanya jatuh di wajah Datok. Arya harus menerimanya dengan ketabahan, walau pahit.

###

Masa-masa bersama Datok akan selalu terekam di benaknya. Ia semakin memperkuat tekadnya demi janjinya pada Datok saat ia kecil dan bersalaman tanda kesepakatan.

“Aku harus sekolah setinggi-tingginya. Supaya Datok disana bisa membagi senyumnya padaku walaupun dalam mimpi. Semoga Datok tahu, bahwa aku akan sekuat tenaga memperjuangkan perjanjian kite, Tok.”, gumam Arya dalam hati.

diikutsertakan dalam Lomba Cerpen RDK 32 ITS

http://www.masjid.its.ac.id/?p=1629

selamat membaca..

mohon kritik dan saran yaaa..^_^

Nany Safrianty

original link: klik disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s