‘Membunuh’ orang tua Baso

Posted: 22 Desember 2011 in Negeri 5 Menara
Tag:, , ,


Masih terkait dengan analisis tebak-tebakan saya. Haha, entahlah. Hingga saat ini saya masih penasaran.

Berbicara tentang trilogy novel Negeri 5 Menara karangan Ahmad Fuadi, merupakan novel yang terinspirasi dari kisah-kisah nyata. Ingat! “Terinspirasi” bukan berarti “Berdasarkan”. Artinya, tidak harus sama dengan aslinya. Mas Andrea Hirata pernah berkata bahwa seperti itulah novel. Ada pengembangannya, ada dramatisasinya, yang kecil jadi besar, bahkan tak jarang yang besar menjadi kecil. Tidak masalah.

Teringat tentang tokoh Randai, saya jadi teringat tentang tentang tokoh Baso, anggota Shohibul Menara dalam novel Negeri 5 Menara. Dikisahkan ia adalah anak muda dengan ingatan yang luar biasa. Apa saja yang ia lihat, ia dengar dan ia pelajari, akan dapat dihafalkannya seketika itu juga. Bahkan kata Bang Fuadi bahwa dikhawatirkan Baso itu bisa lebih detil menjelaskan pelajaran daripada ustadz.

Dikisahkan ia adalah anak yatim piatu dari Sulawesi yang sangat ingin menghadiahkan jubah kemuliaan kepada orangtuanya di Akhirat dengan menghafalkan Alquran. Lalu ketika ia mendengar bahwa Nenek (bukan nenek ‘kandung’ Baso) yang merawat Baso sejak kecil telah jatuh sakit. Sementara sang nenek sebatang kara, maka Baso memutuskan untuk berhenti dari Pondok Madani (PM) sewaktu kelas lima. Tinggal satu tahun lagi lulus.

Pada kenyataannya, tokoh asli inspirasi Bang Fuadi untuk sosok Baso bernama Ikhlas Budiman. Ia tidaklah yatim piatu seperti yang dikisahkan. Tidak juga dipelihara oleh seorang nenek yang sebatang kara.

“Jadi, saya sangat terinspirasi dengan tekadnya. Kami sedang berusaha menyelesaikan sekolah, dia malah dengan sukarela keluar di kelas lima, hanya setahun lagi, hanya untuk menghafal quran. Bagi saya ini reasonnya sangat luar biasa…
“…Saya sangat menghargai pilihan itu, dan susah menempatkan pilihan itu dalam cerita biasa. Karena orang tidak mengerti bagaimana esensinya menghafal Quran.” kata Bang Fuadi.

Bang Fuadi mencoba mempermudah pemahaman tentang menghafal Quran tapi di saat yang sama, ia begitu lihai mengolah konflik hingga menjelma menjadi cerita yang sangat menarik.

Sambil tersenyum Bang Ikhlas Budiman berkata, “Kok bisa, ya.” Senyumnya merekah jelas. “Padahal saya baru saja ingin menghadiahkan Novel ini untuk ayah saya. Pas saya baca, kok Bapak saya ditulis sudah meninggal. Kalau dikasih bapak saya kan kasihan.” candanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s