Gajah Sirkus dan Impian

Posted: 14 Oktober 2012 in artikelku, catatan riefu
Tag:, , , ,

Tahukah kamu tentang gajah sirkus? Ya, sirkus. Yang biasanya suka show keliling di tenda orange-putih raksasa itu loh. Nah binatang-binatangnya itu kan juga pasti dipindakan, terus kalau lagi gak show, hewan tertentu tentu di taruh di suatu tempat. Lalu bagaimana dengan gajah? Apa gajah ada kandangnya? Bisa segede apa coba? Tentu gajah itu harus ‘didiamkan’ agar tidak rewel. Coba bayangkan saja gimana kalau gajah lari-lari keliling tenda.

Konon, ada rahasianya membuat gajah bisa tenang.

Jadi ketika gajah itu masih kecil, kakinya dirantai dengan rantai baja yang kuat. Lalu di ujung rantai dipasang di sebuah pasak yang kuat. Sehingga ketika anak gajah itu meronta-ronta ingin melepaskan diri, kakinya malah semakin sakit. Semakin dia mencoba, semakin sakit. Hal itu terus menerus berlangsung. Sampai akhirnya dia berpikir, “Selama ada sesuatu di kaki saya, kalau saya semakin berusaha, semakin sakit, semakin terluka. Mending diam saja dan tak usah melawan.” Keputusan gajah itu: berhenti melawan.

Ketika sampai pada fase itu, biasanya ketika gajah itu sudah siap dilatih, rantai itu dilepas.

Nah? Kok dilepas? Iya. Digantikan dengan tali tambang yang kecil. Gajah, mana bisa membedakan mana rantai baja, mana tali tambang. Jadi pas diganti dengan tali, eh gajahnya diam saja.

Padahal, tunggu dulu, perlu saya ulangi, PADAHAL, kalau gajah itu berani mencoba sekali saja untuk ‘melawan’, sekali saja dia mencoba ACTION atau blocking yang terpatri di alam bawah sadarnya, pasti dia akan berhasil. Hanya saja, gajah itu tidak berani mencoba.

Kita juga sering mengalami hal itu. Kita sering sekali tidak berani bermimpi besar bahkan kita tidak berani ACTION besar. Ah, tidak usah action besar, memulai saja, tidak berani.

“Ah, saya tidak mau muluk-muluk. Asal bisa dapat kerja saja sudah cukup. Toh sudah dari dulu kakek saya berprofesi sebagai tukan ojek.”

Mohon maaf, sekali lagi mohon maaf, bukan berarti profesi tukang ojek itu hina. tidak. Tidak sama sekali. Hanya saja yang ingin saya katakan bahwa seperti itulah contoh dalam kehidupan kita.

Kita cenderung meyakini hal-hal yang sudah ‘dibenarkan’ sepihak dengan berkata, “Ah, emang sudah begitu, kamu emang gak bisa!” atau “Dari dulu emang gitu, gak usah dilawan deh.” atau juga, “sepanjang sejarah keluarga kami, gak ada yang seperti itu, gak usah coba-coba deh!”

Oke, teman-teman yang ajaib! Solusinya gimana? Ya mulai saja. Coba saja! ACTION! Sip? Oke sip! 🙂

Salam Ajaib!

Arif Rahman Igirisa Ph.E. (Follow me on twitter: @arifigirisa)

Jika merasa tulisan tangan saya ini bermanfaat, mohon dishare dengan men-klik tombol “share this” di bawah. 🙂

Komentar
  1. kangyaannn mengatakan:

    saya selalu memotipasi anak untuk lebih baik dari saya sendiri dalam hal positif… terutama dalam hal pendidikan dan keahlian….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s