Ibu Ningsi Ismail, S.Pd. : “Yang Penting Bagaimana ‘Kita’, Bukan Bagaimana ‘Aku’.”

Posted: 30 Mei 2014 in #NasihatGuruku, catatan riefu
Tag:,

Bu Olin Djafar dan Bu Ningsi Ismail (Kiri ke Kanan)

Bu Olin Djafar dan Bu Ningsi Ismail (Kiri ke Kanan)

Saya punya seorang teman, dia adalah guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia di SMK Muhammadiyah Bitung juga guru mata pelajaran yang sama di Madrasah Aliyah YASPIB (Bitung). Ibu Ningsi Ismail namanya. Ibu dengan dua orang anak ini mengisahkan tentang bagaimana perjalanan kehidupan pernikahannya bisa bertahan dalam gonjang-ganjing ekonomi yang hebat.

“Bahkan, Rif, kalau ada istilah yang lebih dari kata‘miskin’, kami jauh lebih miskin. Kalau ada kata yang lebih hebat menggambarkan bagaimana payahnya rumah tangga kami dalam hal ekonomi daripada kata ‘susah’, mungkin itulah kata yang tepat.” Begitu ujar Bu Ningsi, panggilan akrabnya.

“Waktu Dea (anak pertamanya Bu Ningsi. Red.) baru dilahirkan, kami hanya tinggal di sebuah kamar kecil kumuh sempit yang berdinding tripleks. Yang mana, tripleks itu sudah rapuh dan ketika Dea bermain atau menendang-nendang dinding itu dengan kaki mungilnya, ada sedikit retakan bahkan jebol. Hehehe.” Kenang Bu Ningsi.

Saya pun bertanya apa yang membuat Ibu Ningsi bertahan dalam rumah tangga yang begitu payah susah dalam ekonomi seperti itu.

“Ibu bertahan karena Ibu tahu ini adalah ujian dari Allah. Mengeluh tak berguna, hanya menambah beban yang dirasa. Syukur saja. Lalu yang penting….”

“Yang penting apa, Bu?”

“Tanamkan dalam dada suami dan isteri adalah ‘KITA’. K-I-T-A. Ini adalah kehidupan kita, jalani bersama, mencari solusinya bersama dan bukan saling meninggalkan. Umumnya yang membuat retak rumah tangga dalam masalah bahkan kecil adalah harapan yang terlalu tinggi dan terlalu banyak membaca novel. Kebanyakan dalam novel berkata: Mereka bahagia selamanya. Padahal tak ada rumah tangga seperti itu.” Bu Ningsi melayang dalam pidatonya. Saya tercerahkan.

“Syukuri, Rif. Sabar. Ingat selalu “KITA”. Kata kuncinya: Bersama. Itu!” Kini Bu Ningsi jadi kayak Pak Mario Tegar.

“Alhamdulillah, semua bisa kami lewati. Sekarang segala puji bagi Allah, rezeki kami membaik. Kini Dea sudah bisa kuliah di salah satu kampus terbaik di Gorontalo.” ucapnya dengan tersenyum. 🙂

Saya mengangguk-angguk. Obrolan kami ini mungkin hanya beberapa menit, tapi sungguh menginspirasi seumur hidup.

=========================

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E. (Ingin mengobrol dengan saya? Follow twitter: @arifigirisa)

 

Terima kasih telah berkunjung. Sebagai oleh-oleh, silahkan download 2 e-book gratis persembahan dari kami. Klik di sini:

Free download: E-book 7 Hari Jadi Juragan

Free download: E-book 5 Jurus Jitu Dongkrak Penjualan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s