Wasiat Seorang Isteri

Posted: 10 Juni 2014 in catatan riefu
Tag:

"Wanita Sedang Sakit"

“Wanita Sedang Sakit”

Seorang lelaki dituntut untuk dapat memenuhi permintaan seorang wanita yang menjadi isterinya. Wanita yang telah mengabdikan dirinya untuk lelaki itu, ia mengganti namanya, ia mengganti tempat tinggalnya, ia melahirkan anak-anak untuknya, ia memasakkan masakan yang enak untuknya, ia menyediakan tempat untuk kembali bagi lelaki, dan sungguh banyak pengabdian seorang isteri. Adakah lelaki yang tega tidak memenuhi permintaan seorang wanita yang begitu mencurahkan energi kebaikannya itu. Teringat hal itu, guru saya pernah bercerita:

Alkisah ada seorang wanita yang sedang terbaring lemah di rumah sakit. Konon dia menderita penyakit yang parah yang katanya tidak akan bertahan kecuali hanya beberapa minggu saja. Mengetahui hal itu, wanita tersebut memanggil suaminya.

“Ayah, tolong dengarkan.” ucap wanita itu kepada suaminya yang ada di samping ranjang. Lelaki tersebut menggenggam erat tangan isterinya. Ia bersiap.

“Uhuk! Sebelum saya meninggal, … Uhuk! Saya ingin memberikan beberapa permintaan.”

“Kamu jangan begitu, Sayang. Kamu pasti sembuh. Kamu tak boleh berkata seperti itu.” ujar suaminya khawatir.

“Uhuk! Uhuk! Saya memang harus mengungkapkan hal ini. Harus! Uhuk!” wanita berusaha mengumpulkan tenaga. Ia bangkit dari ranjang. Suaminya membantu membangunkannya. Sekarang ia dalam posisi duduk.

Suami tahu dan ia harus menghargai usaha isterinya, “Baiklah, katakanlah. Aku akan mendengarkanmu, Sayangku.”

“Aku punya tiga permintaan. Uhuk!” dengan mata yang agak sayu wanita menatap serius suaminya. “Pertama, tolong jaga anak-anak kita. Rawat mereka dengan baik.”

“Tentu saja, Sayang. Mereka adalah buah cintaku. Sama sepertimu, aku mencintai mereka.”

“Aku senang mendengarnya.” wanita tersenyum. “Kedua, kamu boleh menikah selepas aku meninggal dunia. Kamu juga tentu butuh kasih sayang seorang wanita, kamu butuh ada yang merawat. Aku mengkhawatirkan hal itu. Anak-anak juga butuh kasih sayang seorang ibu. Menikahlah dengan wanita itu setelah tanah kuburanku kering.”

Lelaki itu meneteskan air matanya. Sungguh ia terharu mendengarkan kebesaran hati isterinya. “Terima kasih isteriku. Tolong jangan teruskan. Aku tak kuat melihatmu. Kamu harus sembuh.”

“Aku harus melanjutkannya.”

“Silahkan.”

“Ketiga, tolong jika aku telah dikuburkan nanti, jangan ada yang menangis berlebihan. Jenguklah aku setiap hari, sirami kuburku pagi dan sore dengan air dan jangan biarkan tanahnya mengering.”

“…..”

=========================

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E. (Ingin mengobrol dengan saya? Follow twitter: @arifigirisa)

 

Terima kasih telah berkunjung. Sebagai oleh-oleh, silahkan download 2 e-book gratis persembahan dari kami. Klik di sini:

Free download: E-book 7 Hari Jadi Juragan

Free download: E-book 5 Jurus Jitu Dongkrak Penjualan

Komentar
  1. inne mengatakan:

    wowww, ada kah yg mau mlkukan prmintaan ketiga itu? ^_~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s