Ukhuwah Yang Hampir Terlupakan

Posted: 12 Juni 2014 in catatan riefu
Tag:, , ,

"We Are Watching Outside With Facebook."

“We Are Watching Outside With Facebook.”

Beginilah kita. Ada yang salah dengan dunia kita. Facebook, oh facebook. Kenapa kita melihat dunia luar hanya melaluimu, padahal pintu terbuka lebar untuk melangkahkan kaki keluar.

Ada seorang teman yang sakit, kita memposting di berandanya: “GWS ya!” atau kadang juga lengkap bukan dalam singkatan “GetWell Soon, ya.” bisa-bisa “Cepat Sembuh, Teman!” disingkat jadi “CST”. -_-

Kalau kondisi terus seperti ini, ke depan akan ada teman kita yang menikah dan tak ada yang datang. Semuanya mengucapkan selamat dan doanya lewat media sosial (saja) dan ‘titipan’ ditransfer lewat e-banking. Di tempat lain ketika teman kita kedukaan, atau mungkin dia sendiri yang meninggal, tak ada yang datang sama sekali! Hanya ada ucapan bela sungkawa lewat facebook lewat berandanya. Lalu dia (yang meninggal) membalas, “Tengs ya, Bro, Sis. Doakan agar saya tenang dan diberi tempat yang layak di siniNya.” sinting!

Sering, kejadian ketika teman kita berulang tahun, yang kita lakukan adalah mengirim ke wall-nya saja, “HBD.” & lain-lain. Kadang dalam berbagai bahasa mereka menuliskannya. Tak jarang juga kita ingat ulang tahun teman kita (hanya) saat kita membuka facebook dan ada pemberitahuan bahwa ia sedang berulang tahun hari ini.

Betapa dunia sosial kita telah berpindah dimensi.

Dulunya saling mengunjungi rumah, sekarang saling mengunjungi blog. Dulunya menguntit dari jauh melihat-lihat kegiatan teman baik kita (baca: gebetan), sekarang dilakukan hanya dengan menguntit atau me-stalk akun media sosialnya.

Terlepas dari berbagai kebaikan yang diberikan oleh dunia sosial tentang jaraklah, efisiensilah, tentang hematlah, media sosial mengurangi interaksi manusia sesungguhnya. Bertatap muka kata orang indonesia, face to face kata orang inggris, ber-muwajahah kata orang arab, itulah interaksi manusia sesungguhnya. Merasakan sejuknya angin bersama, mengikat tali silaturahim yang lebih erat, menyapa hangat dan tulus diiringi senyuman yang manis. Oh, amboi rasanya bertegur sapa hangat seperti itu.

Malah terkadang, seorang anak lebih akrab dengan komputernya daripada kedua orang tuanya. Lebih dari 9 jam per hari ia habiskan di depan media sosialnya, lebih memilih bercengkrama dengan ‘teman tak berkulitas’nya itu daripada berbicara dengan orang tuanya yang begitu mencintainya bahkan sejak sebelum dia lahir.

Ah, Teman, memang saya hanya bisa menyapamu lewat tulisan ini. Tapi catatlah ini, suatu saat saya ingin sekali bertemu dengan kalian semua pembaca blog ini (kalau ada, hihihi), bercengkrama langsung, berbagi senyum (real smile), bukan sekedar emoticon atau tulisan “Wkwkwk” yang pada aslinya tidak tertawa demikian. Moga Allah pertemukan kita dalam ukhuwah yang sebenarnya di suatu tempat bertemu. Setidaknya di surga nanti. Amiiin.

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s