Mendengarkan Dapat Meluluhkan Hati

Mendengarkan Dapat Meluluhkan Hati

Teman, dalam berkomunikasi, berbicara bukanlah satu-satunya skill yang harus kita miliki. Namun keahlian penting yang harus kita punyai, yang bahkan jauh lebih dahsyat daripada berbicara adalah MENDENGAR. Di tweet-tweet saya juga pernah saya bahas tentang betapa ajaibnya mendengarkan itu.

Para inspirator juga sering mengatakan hal yang lazim kita dengar, yaitu alasan kenapa kita hanya punya satu buah mulut sementara memiliki dua buah telinga.. Barangkali Tuhan ingin kita lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Kita diinginkan Allah untuk mensyukuri bentuk anugerah ini untuk lebih banyak memahami orang lain daripada egois tentang keinginan kita.

Yang saya bicarakan di sini bukanlah mendengarkan yang sekadar memasang kuping dan selesai. That’s it. Jauh daripada itu adalah mendengarkan yang di sana kita melibatkan hati dan pikiran kita juga di sana. Dalam bahasa inggris ada mendengar “To Hear” dan ada juga mendengar yang dalam bahasa inggris “To Listen”, yang berarti mendengar dengan memperhatikan. Keduanya berbeda maknanya.

Saya teringat seorang guru yang menjelaskan pada saya tentang 4 tingkatan mendengarkan. Baiklah, ini dia 4 tingkatan itu:

1. Ignorance Listener.

Ini adalah tingkatan pertama dari mendengarkan. Pendengar yang hanya memasang telinganya, lalu selesai. Tak ada yang ia tangkap, tak ada yang ia hiraukan, tak ada kepedulian apapun. Hanya mendengar dengan memasang kuping.

2. Pretending to Listen/ Manipulated Listener

Yaitu mendengarkan dengan berpura-pura mengangguk-anggukan kepalanya ketika mendengarkan seseorang berbicara. Tingkatan ini memang sedikit lebih tinggi karena setidaknya di tingkatan ini walaupun berpura-pura, ia berusaha menghadirkan dirinya dan perhatiannya ketika mendengarkan. Kadang juga walaupun mungkin saja pembiraannya membosankan, ia tak ingin menyakiti hati pembicara dan tetap menghargainya dengan perhatian ‘palsu’. Tak apalah.

3. Simpatic Listener

Nah, inilah tingkat mendengarkan dengan mencurahkan pikiran dan perhatiannya dalam sebuah percakapan. Ia menghadirkan dirinya, memasang telinganya, membuka hatinya, kemudian tak lama setelah itu, ia dapat menghangatkan hati orang yang berbicara padanya. Meskipun orang yang mendengarkan itu tidak memberinya solusi, namun dengan begitu, mendengarkan di tingkatan ini begitu ajaib dan memberikan “The Power Of Encouragement” atau kekuatan dorongan yang besar kepada orang lain. Walau masalahnya belum selesai, tapi hati pembicara menjadi lega dan dia bisa saja berkata: “Kamu adalah teman terbaikku. Terima kasih.”

Namun begitu, ini belumlah tingkatan tertingg dari mendengarkan. Ada satu lagi tingkatan mendengarkan yang jaauh lebih dahsyat yaitu:

4. Empatic Listener

Persis seperti Simpatic Listener, namun setingkat lebih tinggi: memberi solusi. Ia mendengarkan, memberikan hatinya, memperhatikan dengan baik, dan, memberikan solusi yang terbaik yang dia punyai. Membantu, sekuat tenaganya, mendampingi bahkan hingga masalah itu selesai. Inilah tingkatan tertinggi mendengarkan. 🙂

Bagaimana? Yuk berlatih mendengarkan. Dengan mendengarkan, kita bisa meluluhkan hati orang lain. ^_^

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s