Hijrah Berulang-ulang, Hijrah Terus-menerus

Posted: 8 Februari 2016 in #NasihatGuruku, artikelku, catatan harian, catatan riefu
Tag:, , , , , ,

Imlek

Kita seringkali mendengar perdebatan antara bolehkah mengucapkan “Selamat Tahun Baru”. Bermacam-macam kontroversinya. Mulai dari tahun baru masehi, tahun baru hijriah, dan kali ini tahun baru imlek. Normal.

Oke, mari kita lepaskan dahulu perbedaan itu. Mari kita coba memaknai tahun baru dengan cara yang sebenarnya, atau lebih tepatnya dengan cara yang seharusnya kita lakukan. Yakni: Hijrah. Berpindah.

Kata teman saya yang merayakan tahun baru imlek bahwa kenapa mereka selalu identik dengan “baru” di tahun baru, adalah simbol untuk memulai sesuatu yang baru. Dapat diartikan juga hijrah.

Tahun baru masehi didasarkan pada revolusi bumi terhadap matahari, atau tahun baru hijriah yang didasarkan pada revolusi bulan terhadap bumi, keduanya adalah menandakan sebuah proses baru. Yang juga dapat kita artikan sebagai hijrah. Keduanya bergerak. Keduanya move on.

Terlepas dari apakah momen untuk berhijrah itu kapan, tapi kita diisyaratkan untuk hijrah terus menerus. Ya, bulan dan bumi dalam revolusinya masing-masing, justru tidak pernah berhenti bergerak. Kamu bisa menanyakannya pada guru fisika.

Ilustrasi: Hijrah Nabi

Ilustrasi: Hijrah Nabi

Dalam hal ini, kita memaknai tahun baru sebagai hijrah, bukan sekadar hijrah. Tetapi, hijrah dari keburukan menjadi kebaikan. Hijrah menuju kepada arah yang lebih baik. Dan, bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali, dan terus-menerus.

Bukankah kita kata Nabi harus lebih baik daripada hari kemarin?

Barangkali memang bukan momen yang pas kalau saya akan membahas tentang hijrahnya Nabi dari Makkah ke Madinah di sini. Tapi, telah dicontohkan Nabi kita s.a.w. bahwa kita mesti berhijrah. Hampir semua Nabi melakukannya.

Seorang guru bernasihat kepada saya bahwa belajar itu tak pernah berhenti. Salah sedikit pun tak masalah. Kamu tinggal mencoba lagi. Asalkan, kamu tetap belajar. Maknanya, jangan pernah berhenti maju.

Misalkan ada teman yang katanya mau berhijab dengan benar. Ketika diingatkan kenapa belum-belum juga berhijab, “Sedang berproses” kata dia. Lha? Dari tahun lalu gitu-gitu aja. Itu tidak berproses namanya. Tidak move on. Tidak hijrah.

Proses = progress.

Kalau tidak ada progress-nya dalam berhijrah, ya dapat dikatakan tidak berproses. Ibarat kamu mau hijrah dari suatu tempat A ke tempat B, tetapi kamu tetap di tempat A. Tidak jalan.

Misalkan ada teman yang katanya mau memperbaiki diri. Biasanya dengan alasan agar meningkatkan kepantasan diri untuk jodoh. Tapi gimana progressnya, dia enggan tinggalkan maksiat. Pacaran masih tetap. Ibadah tak menetap. Aurat diumbar-umbar bebas tersantap. Progressnya tidak jalan.

Oke, mohon maaf kalau ada yang tersinggung. Tapi faktanya, banyak dari kita yang progressnya tidak ada, tapi berpikir sedang berproses. Katanya mau hijrah, tapi tidak jalan-jalan. Cuma diam di tempat.

Kalau sudah hijrah gimana? Ya jalan terus. Prosesnya berulang-ulang. Tiap hari. Dan, harus lebih baik dari hari kemarin. Udah itu aja.

Selamat berhijrah.

Selamat Hari Libur. 🙂

With Love.

Arif Rahman Igirisa.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s