"Jika aku tidak berubah, aku akan kalah!" -Kotaro Minami

“Jika aku tidak berubah, aku akan kalah!” -Kotaro Minami

Temanku, seorang guru pernah bernasihat bahwa bagaimana bisa kita membersihkan ruangan jika sapu yang kita gunakan tidaklah bersih. Maknanya barangkali secara bebas adalah jika ingin berubah, ubahlah dari diri sendiri.

Aa’ Gym pernah berkata bahwa ada tiga hal yang harus mulai ubah jika ingin mengubah sesuatu. Pertama, mulailah dari diri sendiri. Kedua, mulailah dari hal yang kecil. Dan ketiga, mulailah dari Baca entri selengkapnya »

Banyak motivator yang berkata bahwa berpikir selama apapun, masih lebih baik berbuat sebentar saja. Saya pernah teringat tentang seorang anak kecil yang berorasi di forum PBB, ada sebuah kalimat yang sangat menyentuh darinya: “Kita diingat bukan karena apa yang kita pikirkan, tapi kita diingat karena apa yang kita perbuat.” So, berhentilah berpikir dan segera berbuat sekarang. Tentu hal yang positif. :)

Mungkin setelah membaca judulnya ada yang protes, “Tapi kan berbuat itu diawali dengan berpikir.” betul, saya bilang, “Tapi kalau berpikir terus, belum tentu berbuat. Gak jalan-jalan dong..” Mwehehe.

Berpikir, silahkan, tapi mbok jangan lama-lama mikirnya. Kalau udah jalan, ya cepat nyampe nantinya. Kalau kebanyakan mikir, malah terlambat jalan. Kalau udah gitu menyesallah kita. Hehe. Namun perlu diingat, poin penting ketika telah action, saat telah berbuat, adalah belajar. Ya, jangan pernah malas untuk belajar.

Ibarat kata kita mau berenang, sudah barang tentu kita perlu belajar. Tapi sepenting-pentingnya belajar, jauh lebih penting prakteknya, kan? Pokoknya se-positif apapun sesuatu dalam pikiran kita (positive thinking), harus bersegera direalisasikan jadi action. Jangan lupa sambil jalan belajar ilmunya biar makin mantap. Sip? :)

Arif Rahman Igirisa, Ph.E.

Ingin mengobrol dengan saya? Follow twitter saya: @arifigirisa atau silahkan like Fanpage FB: Arif Rahman Igirisa, Ph.E.

Temanku, Ujian Nasional atau disingkat UN, kebanyakan dari teman kita yang akan mengikutinya merasa kuatir, deg-deg-an, atau bahkan takut menghadapinya. Dengan berbagai alasan mereka kemukakan untuk membenarkan perasaannya itu. Tidak sepenuhnya keliru. Tapi sebelum perasaan gelisah itu berlarut-larut, mari kita cek fakta-fakta UN berikut:

1. Seluruh soal dalam UN adalah berbentuk pilihan berganda.

Kabar baiknya, mustahil ada soal yang tidak dapat dijawab oleh peserta Ujian Nasional. Kalau tidak tahu, ya tinggal diisi aja LJUN-nya. Ya kan? :) Undi dengan menyanyikan mantra ini ke LJUN: “Cap.. cip.. cup kembang kuncup, uang gocap di dompet Ucup!” eh, kena deh di pilihan kita. Mwihihihi.

2. Waktu yang diberikan adalah 120 menit.

Soal UN berjumlah 40 sampai 50 nomor, misalkan saja Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris memiliki 50 nomor, sementara Matematika 40 nomor, dengan begitu berarti kita memiliki waktu 2 – 3 menit untuk mengerjakan 1 buah soal. Oleh karenanya menejemen waktu sangat diperlukan di sini. Kan lucu kalau ada soal yang sebenarnya bisa kita kerjakan tapi tidak diselesaikan hanya karena persoalan waktu. :)

Tips-tips (sesat) UN.

Jangan isi sembarangan LJUN jika sudah mengalami kebuntuan dan bermain ‘tebak-tebakan’. Asumsikan bahwa jawaban soal UN menyebar secara merata. Misalkan soal matematika 40 nomor, maka kita berasumsi bahwa jawaban A ada 8 buah, B ada 8 buah, C juga 8 buah dan begitu juga untuk jawaban D dan E ada masing-masing 8 buah, sehingga totalnya 40 buah. Maka hitunglah mana jawaban yang paling sedikit, maka isilah seluruh pertanyaan yang tersisa dengan jawaban itu. Contoh: Kamu memiliki 5 nomor terakhir yang kamunya betul-betul blank (moga tidak terjadi demikian). Hitunglah jawaban A berapa nomor, B berapa nomor dan seterusnya dan lihatlah mana yang paling sedikit jumlahnya. Contoh saja jawaban D paling sedikit, maka isilah seluruh 5 soal yang ‘blank’ dengan jawaban D semua. :D Peluangnya minimal ada 1 jawaban yang tidak sengaja benar. :p

Ah, ingat, tips di atas hanya boleh dilakukan di saat darurat saja. Saya tidak menganjurkannya, tapi lebih menganjurkan untuk belajar dengan baik agar terisi dengan jawaban yang benar dan insyaallah kalian semua yang mengikuti UN bisa lulus. Aamiiin.

Salam Semangat.

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Bagikan jika kamu suka tulisan ini ya. :)

“Ilustrasi Orang Yang Sedang Berdoa.”

Barang tentu kita pernah mendengar jika ada berita kematian dan ada yang berkata: “Semoga ia ditempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya.” dan kita semua berkata, “Aamiiin”.

Betul juga, tak ada salahnya, dan sudah baik perkataan itu. Tapi menurut saya, kalimat doa ini memerlukan sedikit pemahaman dan pengubahan pada bagian tertentu karena maknanya kurang tepat.

Di sini letak permasalahannya, coba bayangkan misalkan ada orang yang semasa hidupnya banyak berbuat keburukan, tempat yang layak baginya di mana? Lalu selanjutnya, jika ada orang yang semasa hidupnya dipenuhi dengan kebaikan, maka tempat yang layak bagi dia di mana? Oleh karena Allah itu Maha Adil dalam pembalasan, sudah barang tentu tidak akan keliru dalam menentukan mana tempat yang layak.

Asumsikan ada berkata, “Tapi kan apa yang nampak belum tentu apa yang sebenarnya. Bisa jadi cuma tampilannya saja yang ustadz, tapi ternyata ahli neraka. Dan bisa saja tampilannya bisa saja, eh, ternyata dia ahli surga, bisa saja kan?” Saya katakan, iya betul. Tak masalah yang mana yang benar, yang jelas kita mendoakan agar ia ditempat di tempat yang LAYAK kan? Jadi sebenarnya itu doa yang tidak perlu yak? Hehehe.

Yang lebih tepat, atau sekurang-kurangnya saya berdoa meminta agar diampuni dosa-dosanya, dan kelak dimasukkan kedalam syurga. Atau tentang  dilimpahkannya kebaikan dan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan. Atau misalkan, “semoga amal ibadahnya diterima di sisi Allah.” ungkapan doa seperti itu jauh lebih tepat. Sehingga doa kita lebih efektif, spesifik dan layak.

Seperti sebuah kisah tentang seorang yang berdoa:

“Ya Allah, aku ingin cuma goyang-goyang kaki dapat uang.” Eh, tidak lama dia jadi tukang jahit.

“Ya Allah, aku ingin dikelilingi oleh banyak wanita. Ketika aku menyahut, para wanita langsung mendekat.” Eh, tidak lama ia jadi tukang sayur. Mwehehehe.

Salam Ajaib.

Arif Rahman Igirisa, Ph.E.

Di posting yang lalu kita telah belajar tentang mengubah gerakan. Sekarang kita lanjutkan ya, Teman.

2. Mengubah Pilihan Kata.

Dengan mengubah pilihan kata kita, sama artinya kita dengan sengaja mengubah arah dan kondisi kita. Misalkan kita punya masalah dan berkata, “Duh, saya bingung.” apa yang terjadi? Bingung? Iya, bingung! Karena otak kita akan merespon apa yang kita ucapkan. Lain halnya jika kita ganti kalimat itu dan berkata, “Wah, saya kekurangan informasi.” apa yang terjadi selanjutnya? Kita akan berusaha mencari informasi dan bertanya “Bagaimana caranya?” Dan akhirnya menemukan solusi dari masalah kita.

Marilah, Teman, kita coba adakan sedikit percobaan. Mari sama-sama ucapkan kata-kata berikut ini:

DENGKI, DENDAM, DONGKOL, SAKIT HATI!

Nah, apa yang Teman rasakan? Sakit hati! Bagus!

Sekarang coba ucapkan kata-kata berikut ini:

BAHAGIA, SENANG, MENYENANGKAN, INDAH DIPANDANG. :)

Apa yang terasa? Apalagi kalau diucap sembari tersenyum. ^_^ Ternyata pilihan kata itu mengubah banyak hal.

Sebagai contoh saja:

  • Kata SUSAH diubah menjadi TIDAK MUDAH.
  • Kata MENDERITA diubah menjadi SEDANG DIUJI.
  • Kata MENGALAMI KERUGIAN diubah menjadi MENGELUARKAN ONGKOS BELAJAR
  • Dan lain sebagainya. Sip? :)

Jadi mulai sekarang cobalah mengganti pilihan kata yang buruk dengan pilihan kata yang baik ya, Teman.

Salam Ajaib, Teman.

Arif Rahman Igirisa, Ph.E.

Teman, sering kita mendapati diri kita memiliki kelemahan dan kita menganggap itu adalah kekurangan. Hal ini berimbas pada kita yang menjadi takut dengan kekurangan itu.

Di tulisan ini saya akan menceritakan tentang 3 cara mengubah fear into power. Cekidot:

1. Ubah Gerakan.

Ketahuilah, Teman, our motion change our emotion, gerakan itu mempengaruhi perasaan. Mari kita adakan sedikit eksperimen. Cobalah lakukan hal-hal di bawah ini secara berurutan:

  • Turunkan bahu kita dan masukkan dada ke dalam.
  • Turunkan dagu dan buat wajah sekusut mungkin dengan mata yang sayu.
  • Kemudian katakan dengan lesu: “Saya lagi bahagia.”

Apa yang kita rasakan? Apakah kita benar-benar bahagia? Tentu tidak. Karena memang emosi dipengaruhi oleh gerakan. Mari kita coba langkah sebaliknya:

  • Busungkan dada dan dagu diangkat.
  • Pelototkan mata, tapi jangan sampai melompat keluar bola matanya.
  • Kepalkan dengan kencang tangan kita sejajar kepala dan teriakkan: “SAYA LAGI SEDIH!!!”

Apa yang terasa? Apa sudah paham? :) Mulai sekarang ubah gerakan ya, Teman. Walau lagi tak punya uang, cara berjalan kita tak boleh seperti tak punya semangat. Tipsnya: berjalanlan 25% lebih cepat dari biasanya. Berjalanlah tegak bagai menggendong ransel 40 kg. Hehehe. Cobalah dalam waktu 1 minggu dan rasakan perbedaannya. :)

Bersambung….

Arif Rahman Igirisa.

Ingin megobrol dengan saya? Follow twitter @arifigirisa

Teman, agar semua ilmu dapat masuk dengan baik, ya benar, SEMUA ILMU, ilmu apapun itu, maka kita harus memenuhi tiga buah kondisi yang mana ini begitu penting dan memang harus ada dalam setiap proses belajar atau menerima ilmu.

Pertama, Cintailah Gurunya. Kedua, cintailah pelajarannya. Ketiga, cintailah diri kita sendiri.

Sering ada sebuah pelajaran yang sangat kita sukai, tapi gurunya tidak kita cintai, sungguh pelajaran seperti itu tidak akan masuk. Saya rasa semua orang pernah mengalami hal serupa. Begitupun sebaliknya, jika gurunya telah kita cintai, telah senangi, tapi pelajarannya itu sendiri tidak kita cintai atau gemari, jelas itu pun tidak lebih baik dari kondisi yang pertama.

Guru saya pernah bernasihat tentang sebuah doa agar kita bisa mencintai guru sekaligus mencintai pelajarannya. “Apa doa itu, Guru?” tanya saya.

“Allahumma paksa..” ucap guru saya. Saya dan teman-teman lain tertawa.

Sekilas terdengar bercanda. Tapi ada betulnya bahwa memang sebuah kecintaan terhadap ilmu itu harus dipaksakan. Memang awalnya terpaksa, dicoba lagi terus akhirnya bisa, lama-lama biasa, akhirnya jadi luar biasa.

Syarat ketiga, mencintai diri sendiri di sini maksudnya adalah jika kita tidak rajin belajar, maka kita seharusnya dapat menikmati betapa pahitnya kebodohan. Teman, adakah kondisi ketika kita yang rajin dan susah payah belajar, eh ternyata orang lain yang menjadi pintar? Tentu tidak. Yang menanam, dia yang akan menuai hasilnya, begitu kata pepatah.

Jika kita tidak rajin belajar, sama artinya kita tidak menyayangi dan mencintai diri kita sendiri karena membiarkan diri kita dalam kebodohan dan terjerumus ke alam kegelapan. Kita sedang bicara ilmu ya, bukan mati lampu. :)

Nah, itu dia tiga kondisi yang harus terpenuhi dalam proses belajar. Mari terus semangat belajar.

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Sering kita ketika diberi sebuah tantangan baru, ketika diberi sebuah perintah baru yang kita akan lakukan, atau saat terjebak di sebuah kondisi yang mau tidak mau kita harus melaksanakannya, kita merasa hal itu terlalu berat untuk dilakukan. Sering kita keluhkan: “Duh, terlalu jauh” lah, atau “Terlalu sulit” lah, dan sebagainya dan sebagainya.

Tak jarang juga kita melebih-lebihkan masalah yang kita sedang hadapi. Padahal, Teman, masalah itu tidaklah ‘separah’ yang kita katakan.

Guru saya pernah bernasihat sebuah trik khusus yang dapat membuat apapun dapat menjadi ringan. Apa itu? NIAT!

Kenapa beberapa lain orang asik dengan apa yang dikerjakannya, sementara yang lain tidak menikmati apa yang ia sedang kerjakan? Jawabannya: NIAT. Jika kita niatkan, insyaallah semua jadi mudah, begitu ungkap seorang guru.

Alkisah ada sebuah penjara yang dihuni oleh 4 orang. Yang pertama, seorang pelaku pencabulan. Yang kedua, seorang pembunuh berantai. Yang ketiga ia adalah seorang psikopat dan yang keempat adalah seorang waria.

Di sebuah kesempatan, mereka dilanda rasa jenuh yang luar biasa di dalam penjara. Kemudian mereka bercerita tentang apa yang mereka niatkan untuk segera dilakukan untuk melepas kejenuhan mereka.

Seorang pelaku pencabulan berkata: “Kalau seandainya di depan kita sekarang ini lewat seekor kucing, maka saya akan memperkosa dia!”

“Kalau saya, setelah saya perkosa, akan saya bunuh kucing itu!” si Pembunuh Berantai menimpali.

“Kalau saya, setelah saya perkosa tuh kucing, saya bunuh, terus saya perkosa lagi!” si Psikopat tak mau kalah ia mengungkapkan niatnya apa yang akan dia lakukan jika seekor kucing lewat di depan mereka.

Tiba-tiba dari sudut ruang penjara seorang waria berkata lirih: “Miaaaw… miaaaw…” sambil memperagakan gerakan kucing mencakar.

Hari ini, Rabu 9 Juli 2014, rakyat Indonesia sedang (akan) melaksanakan sebuah hajatan besar yaitu pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Ada yang mengait-ngaitkan bahwa keturunan baik menjadi patokan, sehingga yang dari keturunan tidak baik, tidak pantas dipilih. Ada juga yang berceloteh bahwa calon yang ini orangnya ganteng dan pantas dipilih, padahal kegantengan bukan kriteria untuk memilih pemimpin. Kalau pemilihan calon suami sih boleh saja ganteng. :)

Ada juga yang menilai dari hartanya. -_- persis kriteria memilih calon suami ya? Harus Ganteng, Kaya dan dari keluarga yang baik-baik. Padahal Nabi kita mencontohkan bahwa dalam memilih pemimpin harus ada 4 kriteria yang kita lihat dan pertimbangkan. Yaitu, Siddiq, Amanah, Fathonah dan Tabligh. Mari kita tengok satu persatu: Baca entri selengkapnya »

Sering kita menyalahkan orang lain, dan itu mudah sekali. Meng-orang-lain-kan kesalahan diri sendiri pun lebih mudah dari itu. Ibarat kata sebuah pepatah, “Kuman di seberang nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak.” Walau kalau dipikir-pikir, emang kalau gajah ada di pelupuk mata ketutupan ya? Pantasan aja gak keliatan. Gelap. Ah, sudahlah, pokoknya gitu. Kita sering tidak melihat kesalahan diri sendiri, tapi lebih senang melihat kesalahan orang lain.

Kadang kala, kita bisa terkena bahaya menyalahkan orang lain dan termakan omongan kita sendiri. Seperti kisah berikut.
Konon, di sebuah kelas di perguruan tinggi, seorang dosen sedang marah-marah tidak jelas, mungkin kecewa dengan para mahasiswanya yang tidak becus dalam memahami materi perkuliahan.

“Saya kecewa dengan kalian semua!” bentak Dosen tersebut.

“……..” para mahasiswa tak bisa berkata apapun. Hening. Semua menundukkan kepalanya.

“Sekarang, coba berdiri siapa yang merasa dirinya BODOH? Cepat sekarang! BERDIRI!” Dosen tersebut manatap mahasiswanya nanap. Melotot.

Kelas terus hening dan tak ada yang berani menyela Dosen yang sedang marah-marah itu.

Tiba-tiba ada seorang mahasiswa yang berdiri dari tempat duduknya. Melihat hal itu Dosen tersebut langsung bereaksi.

“Kamu! Kenapa kamu berdiri hah?!” Bentak dosen tersebut, “Apa kamu merasa diri kamu bodoh? Hah?” Dosen naik pitam.

“Bukan begitu, Pak, saya hanya tidak tega melihat bapak BERDIRI sendirian saja.”

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Khatam Quran

Teman, sudah tentu kita ketahui keutamaan membaca Quran. Terutama di bulan suci Ramadhan. Pahalanya tentu berkali-kali lipat daripada bulan-bulan biasanya. Nah, saya ingin men-share pengalaman pribadi saya dan pengalaman teman-teman saya dalam mengkhatamkan Quran dalam satu bulan bahkan berkali-kali dalam sebulan.

Jika kamu ingin mengetahui lebih banyak silahkan bergabung dengan komunitas ODOJ, One Day One Juz di onedayonejuz.org

Baik, berikut penjelasannya. Pertama, perlu kita ketahui bahwa 1 juz itu jumlahnya ada 9 sampai 10 lembar. Kalau dibagi menjadi 5 bagian, artinya ada 2 lembar. Triknya adalah kita membacanya ketika sebelum dan sesudah sholat 1 lembar. Ya, hanya 1 lembar. Mudah kan? Atau kalau kondisinya tidak memungkinkan, bisa 2 lembar sebelum, atau 2 lembar sesudahnya, atau terserah di mana saja waktu yang sempat  yang penting kita bisa membacanya 10 lembar dalam satu hari. Sehingga dalam 1 bulan (30 hari) dapat terselesaikan 30 juz. Sekali khatam dalam sebulan.

Lain ceritanya jika ingin mengkhatamkan berkali-kali dalam 1 bulan. 2 kali, 3 kali, 4 kali, atau bahkan lebih dari itu, tentu harus membaca lebih banyak lagi halaman dalam 1 hari.

Singkatnya jika ingin khatam 1 kali dalam sebulan, harus menyelesaikan 1 juz sehari. Kalau 2 kali khatam, ya 2 juz sehari. Kalau 3 kali khatam, berarti 3 juz sehari. Dan begitu seterusnya.

Untuk mudahnya silahkan tengok tabel di bawah ini:

Teknik Mengkhatamkan Quran Berkali-kali dalam sebulan

Itulah tabel yang secara logika bisa tercapai sampai 6x khatam quran dalam sebulan. Tapi pada prakteknya, harus diakui butuh konsistensi dan militansi yang tinggi untuk mencapainya. Butuh semangat yang nafas panjang untuk meraihnya. Perlu teman-teman, sahabat-sahabat yang mendorong kuat untuk menyelesaikannya.

Yuk, semangat membaca Quran, Teman. :)

Arif Rahman Hamid Igirisa, Ph.E.

Ketika Kematian Datang, Maka Semuanya Sudah Terlambat

Ketika Kematian Datang, Maka Semuanya Sudah Terlambat

“Tidak ada kata terlambat.” Begitu kata banyak motivator. Tentu, Teman, kita sering mendengarnya. Namun ternyata Allah mengajari kita tentang ada kata terlambat. Coba renungkan, kenapa sholat itu ditentukan waktu-waktunya? Kenapa puasa ada waktunya? Kenapa Allah sering bersumpah demi waktu dalam Quran? Demi masa, demi dhuha, demi malam, demi fajar, demi subuh, semuanya tentang waktu. Apa tandanya ini? Barangkali Allah ingin kita disiplin dan berkata “Terlambat itu ada”.

Lalu, di manakah letak kata terlambat itu? Baca entri selengkapnya »

Dapatkan Bukunya di sini: 7KFPP atau sms ke 08982497463

Dapatkan Bukunya di sini: 7KFPP atau sms ke 08982497463

Memang dunia bisnis dunia yang tidak pasti. Makanya banyak pebisnis yang tiba-tiba dapat 20 juta semalam. Gak pasti. Hihiw. Berbisnis juga merupakan 9 pintu dari 10  pintu rezeki yang disediakan Allah. Namun, beberapa pebisnis, ah bukan, kebanyakan pebisnis pemula sering melakukan beberapa kesalahan fatal yang seharusnya tidak ia lakukan. Ya iyalah, ya, namanya fatal seharusnya gak harus dibikin. Hihihi. Tapi buat pebisnis yang sudah ‘terlajur basah’, mari kita belajar. Kira-kira ada 7 kesalahan fatal pebisnis pemula, berikut ketujuh kesalahan-kesalahan yang sering ditemukan oleh para pebisnis pemula. Cekidot! Baca entri selengkapnya »

Konten ini diproteksi dengan kata sandi. Untuk melihatnya cukup masukkan kata sandi Anda di bawah ini:

Bulan Yang Dibenci Setan

Posted: 28 Juni 2014 in artikelku
Pulang Kampung Aja, Tan!

Pulang Kampung Aja, Tan!

Romadhon namanya. Tidak lebih dari 30 hari lamanya. Sungguh mulia kedudukannya. Amat banyak keutamaannya. Bulan yang dikatakan bahwa ketika itu pintu-pintu surga terbuka lebar dan setan-setan dibelenggu.

Coba kita renungkan lagi dua kalimat penting di atas.

1. Pintu-pintu surga terbuka lebar

2. Setan-setan dibelenggu.

Benarkah begitu?

Oke, kita coba Baca entri selengkapnya »